Showing posts with label ESEMKA Made in Indonesia. Show all posts
Showing posts with label ESEMKA Made in Indonesia. Show all posts

Sunday, June 27, 2010

Pemda Jateng dan Jatim Akan Gunakan Mobil Esemka, Siapa menyusul??

Ini merupakan tindakan yang perlu dicontoh. Tidak hanya berbicara mengenai pengembangan mobil nasional, tapi juga memberikan kontribusi konkret terhadap usaha pengembangannya.

Seperti yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rencananya kedua pemda tersebut akan menggunakan mobil buatan anak-anak SMK tersebut.

"Ya, sepertinya mereka tertarik, karena masing-masing sudah memesan sebanyak 100 unit mobil Esemka," ujar konsultan Departemen Pendidikan Nasional Ari Setiawan, ketika dikunjungi detikOto, di pameran Indonesian Manufacturing, di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu, (2/12/2009).

Rencananya Esemka yang diminati Pemda ini adalah Esemka Digdaya. Sebelumnya Digdaya juga sudah diminati oleh kalangan di China.

Meskipun belum tahu akan digunakan untuk apa, namun Ari berharap, pemesanan tersebut dilakukan karena kedua instansi pemerintah tersebut tertarik untuk menjadikan mobil Esemka sebagai unit operasional mereka.

"Itu salah satu tindakan konkret mereka, jadi tidak hanya asal bicara saja," tambahnya.

Sehingga saat ini, Ari hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya memenuhi permintaan total 200 unit tersebut, dengan memacu para anak-anak SMK untuk semakin kreatif dan produktif. Kapan Pemerintah Pusat menyusul?

Tuesday, March 23, 2010

Pelan Tapi Pasti, Mobnas Akan Terwujudkan

Usaha menciptakan mobil Indonesia dengan harga terjangkau terus berlanjut. Riset menjadi unggulan nasional.

Pagi itu, 18 September 2003, langit di Lingkungan Industri Kecil (LIK) Takaru, Kelurahan Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, terlihat cerah. LIK, yang berdiri sejak 1982 di atas lahan lebih dari 9 hektare, mulai terlihat denyutnya. Ramai dengan suara mesin las, bubut dan gergaji yang menderu. Suara riuh ini seakan menyambut pencanangan proyek kerja sama produksi dan pemanfaatan engine multiguna antara PT Surya Pantura, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemerintah Kabupaten Tegal, yang ditandatangani pada hari yang sama.

Berbeda dengan proyek mobil nasional (Mobnas) -diputuskan melalui Inpres No. 2/1996- yang mengimpor langsung produknya dari Korea Selatan, dalam rencananya kali ini, Kamsi Ranosaputro, Direktur Utama PT Surya Pantura, tidak muluk-muluk. Ia ingin melibatkan industri hulu sampai hilir yang ada di Tegal dengan melibatkan ratusan pengusaha kecil yang tergabung dalam Lingkungan Industri Kecil (LIK) Takaru melalui cluster system. Menurut Dinas Perindutrian Perdagangan dan Tenaga Kerja. Kab. Tegal, 2.761 perajin logam akan terserap dalam proyek ini. Rancang bangun mesinnya 100% dikerjakan oleh putra Indonesia. Produknya berupa mobil angkutan ekonomis yang terjangkau bagi dunia usaha. Bekerja sama dengan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Kamsi menjagokan mesin aluminium mulitiguna 500cc.

Mesin ini dirancang oleh nama yang tak asing lagi di industri otomotif nasional, Suparto Soejatmo, Presiden Direktur PT Indo Tekno Mandiri (ITM). Mantan Direktur Utama PT Timor Distribusi Nasional ini memperoleh bantuan dari DR. Utama H. Padmadinata, Director For Material Technology Center, BPPT dan tim. ITM telah menghasilkan sejumlah mesin yang beberapa di antaranya sudah diproduksi masal.

Mobil Indonesia

Dalam wawancara dengan BusinessWeek Indonesia bulan lalu, Suparto bersemangat mewujudkan proyek ini guna menghadirkan mobil yang bisa dibeli oleh masyarakat. “Mobil Indonesia”, demikian Suparto menyebutnya. Mesin 500cc sengaja dipilihnya,”Supaya tidak head on dengan saudara-saudara tua kita,” tuturnya. Di Indonesia saat ini belum ada mobil yang bermain di kelas 500cc. Pesaing terdekatnya adalah Daihatsu Ceria 600 cc. “Tapi itu di Malaysia. 600cc versi yang paling murah, di sini mereka tidak masuk,” ujar Suparto. Selain cc yang rendah, desain mobil juga dibuat serbaguna. “Sehingga selain bisa untuk mobil penumpang, mobil ini juga bisa dipakai untuk mengangkut produk-produk pertanian,” tuturnya.

Kemampuan Suparto untuk merancang bangun mesin tidak lagi diragukan. Ia sudah merancang 4 buah mesin, diantaranya adalah mesin 1 silinder disel horizontal—yang sudah menjadi prototype dan diproduksi untuk alat pertanian oleh PT Nefa, di Tegal—mesin disel 1600cc dan 1300cc 4 silinder Indirect Injection (IDI) dan mesin disel 5 silinder 2500cc Direct Injection, twin cam, 4 valve yang dilengkapi turbo intercooler, serta mesin motor bensin 2 silinder 500 cc, yang sekarang menjadi proyek unggulan RUSNAS (Riset Unggulan Strategis Nasional) BPPT. “Dengan blok yang sama, mesin itu bisa menjadi mesin disel dengan perubahan yang sangat minor, dan bisa double, ke gas dan bensin,” ujar Suparto.

Kerjasama Suparto dengan BPPT dimulai pada 2001. Saat itu Suparto diundang BPPT untuk menghadiri satu seminar mengenai riset material. Di sana Ia bertemu DR. Utama, Direktur Teknologi Material BPPT. Proyek mesin aluminium yang dikerjakannya mendapat dukungan dari material yang kebetulan telah dikaji BPPT. Posisinya sebagai salah satu Ketua Jaringan Usaha Mandiri Indonesia (JUMI) kemudian membawanya bertemu dengan Menristek Hatta Rajasa dan membuat proyek ini menjadi Riset Unggulan Nasional (RUSNAS).

Menurut Utama, dalam wawancara dengan BusinessWeek Indonesia, program RUSNAS yang dimulai pada 2002 merupakan bentuk dari misi BPPT menjadi agen pembangunan dan mitra terpercaya bagi industri di bidang teknologi. Proses merancang mesin dan membuat prototype engine pertama, telah selesai Desember, 2003. “Kalau dilihat dari siklus mesin, kita tidak mulai dari nol,” ujarnya, karena itu, setelah proses rancang bangun mesin dari PT ITM jadi, “BPPT punya kewajiban untuk mewujudkannya,” tambahnya lagi. Dari prototype pertama, menurut Utama, akan dilakukan modifikasi dan pengujian di Balai Teknologi Thermodinamika Motor dan Propulsi. Pengujian ini meliputi simulasi beban, tanjakan, turunan dan emisi. Setelah itu baru diuji jalan. “Kita sudah ada satu MOU dengan Kancil, yang sekarang menggunakan mesin dari Jepang,” ujarnya.


Rp2,5 miliar

Kementrian Riset dan Teknologi bertanggung jawab atas dana program RUSNAS ini. Pada 2002 BPPT dan ITM telah memperoleh bantuan sebesar Rp500 juta, ditambah Rp1 miliar pada 2003.. Tahun ini, BPPT berencana mengajukan dana sebesar Rp 1 miliar untuk pembuatan prototype tahap ke-2. Dana ini menurut Utama tinggal menunggu persetujuan dari Direktorat Jenderal Anggaran, Departemen Keuangan.

Masalah pendanaan ini pula yang jadi keluhan Suparto. ITM mengajukan dana Rp1,5 milyar untuk rancang bangun prototype kedua,. “Kalau anggarannya ditekan, produksinya akan jelek,” ujar Suparto. Biaya terbesar ada di pengadaan peranti lunak asli yang seharga $70 ribu. Menurut DR. I Nyoman Jujur, Material Engineer, BPPT, apabila dana tersedia, diharapkan target uji tahun ini bisa terlaksana. “Selanjutnya kita akan membuat kira-kira 10 prototipe lagi,” tutur Nyoman. Pada Oktober tahun ini, BPPT akan mencoba mengganti penggunaan bahan bakar bensin dengan bahan bakar gas. “Kita juga mencoba mengganti karburator menjadi injection untuk mengantisipasi aturan pemerintah pada 2005,” tuturnya.

BPPT menargetkan konten lokal di atas 90%. Dengan kondisi ini, menurut Utama, proyek ini bisa bermanfaat bagi industri komponen di Tanah Air dan menciptakan lapangan kerja. “Itulah tujuan utama BPPT, sehingga IPTEK benar-benar bisa teraplikasi ke masyarakat,” ujarnya. Untuk mewujudkannya butuh waktu yang panjang. “Secara bertahap bisa 10 tahun,” ujar Suparto. Ketika mesin sudah jadi semua lalu tergantung pada investor seperti Kamsi. “BPPT bukan investor, mereka membantu kita. Kalau tidak ada BPPT pun kita jalan, tapi pelan-pelan,” ujar Suparto. Dengan adanya BPPT dan RUSNAS proyek ini diharapkan lebih cepat terlaksana.

Kuncinya ada di niat politik pemerintah. Menurut Suparto, harus ada komitmen bersama dari pihak-pihak terkait, termasuk lembaga internasional supaya tidak ada pihak yang merasa dirugikan. “Kita tidak akan minta proteksi. Tapi pemerintah bisa bilang ke WTO untuk mobil 500cc, pajaknya sekian,” ujarnya. Suparto juga tidak takut bersaing. “Saya siap diadu, kalau mesin saya jelek, masak ada orang Iran datang ke saya, juga orang Turki dan China?” tambahnya lagi. Rancang bangun mesin PT ITM, menurut Suparto, selalu memakai standar internasional. “Tapi ada yang saya rubah sehingga cocok dengan iklim yang ada disini,” ujarnya. Mesin 1240 cc, yang dulu dipesan untuk Timor—dan rencananya menjadi proptotype mobil nasional—kini telah jadi dalam bentuk satu unit mobil utuh dan sudah digunakan.

Dari sisi investor, Kamsi menyatakan siap. Walau tidak menyebut angka, PT Surya Pantura menurut Kamsi sudah mengalokasikan dana untuk memproduksi 5000 unit mesin per tahun. Kegiatan pabrikasi untuk proyek otomotif ini, menurut Kamsi, sudah dipersiapkan sejak November tahun lalu dan rencananya dimulai pada Juni tahun ini. Dari sketsa yang diperoleh BusinessWeek Indonesia, mobil ini akan dibuat dengan berbagai varian seperti sedan, pick up, dari mulai yang sederhana hingga yang mewah. Model awal rencananya akan dijual dengan harga di bawah Rp30 juta. Dengan disertai sertifikasi dari BPPT, Deperindag dan Departemen Perhubungan, mobil ini siap mengisi ceruk pasar mobil murah di Indonesia—demi mewujudkan sebuah mimpi, “Mobil Indonesia”.

“ Harus Jadi Prioritas ”
Soehari Sargo, Pengamat Otomotif, tanggal 27 Januari di Jakarta

Ada rencana membuat mobil nasional 500 cc. Apakah bisa bersaing?

Sebetulnya, kebutuhan Indonesia begitu besar, dari Jaguar di kota besar sampai yang paling sederhana di pelosok-pelosok. Jadi peluang pasarnya ada, karena kalau kita lihat di daerah-daerah, daya belinya sangat rendah dan juga kondisi infrastruktur masih sangat sederhana. Yang penting, pola transportasi atau pola penggunaan kendaraan berbeda dengan yang ada di kota-kota. Kalau di desa, mereka menggunakan kendaraan tidak hanya untuk pribadi tapi juga untuk mengangkut barang. Masuk ke sawah-sawah. Sehingga, akan sangat bermanfaat kalau ada kendaraan yang membantu dalam kelas harga maupun dalam fungsinya. Sebagai contoh di Jepang. Waktu Jepang baru selesai perang, ada kendaraan-kendaraan kecil, bahkan bemo, seperti Mazda kotak dsb. Demikian juga di India dan Thailand. Jadi kalau dilihat dari situ, seharusnya peluang pasarnya ada.

Apakah tidak akan bersaing dengan mobil sejenis yang cc-nya sama, yang akan datang dari Cina?

Itu juga menarik untuk dilihat. Namun untuk sementara ini, nampaknya belum ada. Pemain-pemain ini lebih banyak memperhatikan segmen sedan yang di atas 1500cc, itu satu. Yang kedua, China misalnya, sekarang lebih banyak memperhatikan pasar dalam negerinya yang sudah mencapai 4 juta dalam setahun. Walaupun daya beli masyarakat China masih agak rendah, permintaan begitu besar. Pemain-pemain otomotif dunia juga tidak meminati yang (cc-nya) kecil-kecil ini.

Apakah program ini membutuhkan proteksi dan dukungan penuh dari pemerintah?

Saya melihatnya bukan proteksi seperti yang berlaku dulu, tapi lebih pada pengembangan pasar. Misalnya, KUD dan usaha kecil mendapat fasilitas yang lebih baik untuk memiliki kendaraan. Kalau fasilitas dari sisi perpajakan saya kira itu sudah karena semua diproduksi di dalam negeri. Ada sebagian kecil yang diimpor tapi bea masuknya rendah. Sebentar lagi pasti nol dan karena itu tidak akan terkena pajak barang mewah hanya PPN saja. Jadi dalam konsep seperti itulah yang dimaksudkan sebagai proteksi. Kalau saya mengatakannya prioritas.

Bagaimana political will dari pemerintah karena ini sekarang ‘kan menjadi RUSNAS?

Yang masih ditunggu adalah kesinambungan dari program RUSNAS sampai ke kebijakan industri dan perdagangannya. Nah, ini yang belum. Itu urusannya kabinet.

Kalau melihat daya beli masyakarat, mobil dengan harga berapa yang mampu terserap oleh pasar?

Sekarang kalau dilihat pasarnya, kira-kira 70% penjualan ada di Jabotabek dengan harga rata-rata antara Rp150-200 juta. Artinya, masyarakat tipikal di Jabotabek sudah mampu membeli mobil dengan harga tersebut. Dan kalau kita lihat dari GDP regional, ada daerah yang kaya dan daerah yang terbelakang. Kalau harganya antara Rp100-150 juta, pasarnya terbatas di daerah yang sudah maju atau di kota-kota besar. Sementara di daerah-daerah, saya yakin mereka kurang tertarik. Kalau harganya bisa di bawah Rp50 juta saya rasa akan sangat kompetitif.

Ada kemungkinan bersaing dengan produsen lain seperti dengan Daihatsu Ceria yang 800cc?

Itu teknologinya beda. Kalau yang murah (teknologinya) masih sangat sederhana, tidak pakai karburator, tidak pakai AC, dan bodinya juga disederhanakan. Sejauh itu manfaat proyek ini harus didukung karena dulu ada Maleo. Yang menentukan nanti adalah pasar. Sekarang, bagaimana menumbuhkan pasar dengan memberi prioritas dan pengarahan-pengarahan.

Spesifikasi Mesin “Mobil Indonesia”

Tipe mesin: Bensin 4 langkah, 2 silinder SOHC, 2 valves

Total kapasitas silinder: 485 cc

Bore X Stroke: 65,5 mm X 72 mm

Rasio kompresi: 9:1

Tenaga maksimal: 23 kW (31 HP)/4000 rpm

Torsi maksimal: 55 Nm/3000 rpm

Putaran mesin (Rpm) maksimal: 6000 rpm

Langsam (idle speed): 700 rpm

Klep masuk (intake valve): 31,8 mm

Klep pembuangan (exhaust valve): 27 mm

Bahan baku blok silinder: AI (AC4B)

Bahan baku kepala silinder: Al (AC4B)

Sistem pendingin: Air

Sistem pengapian: CDI Distributor Less

Sistem bahan bakar: Karburator (pompa bahan bakar elektris)

Kapasitas oli: 3 liter

Wednesday, December 2, 2009

Esemka Ingin Seperti Kijang

Banyak orang menganggap, mobil buatan anak bangsa kurang mumpuni, baik secara kualitas maupun penampilan. Tapi, coba lihat mobil buatan anak-anak SMK yang satu ini. Dari segi tampilan, dan kualitasnya tidak meragukan.

Tidak seperti produsen mobil China yang kebanyakan mentah-mentah mencaplok desain produk lain untuk membuat mobil nasional mereka. Tapi Esemka benar-benar mendesain Digdaya sendiri, dengan kreasi sendiri.

Begitu juga untuk dapur pacunya. Esemka mengerjakannya sendiri, mengambil basis dari mesin KIA yang sebelumnya sempat dikembangkan Mazda yang mengambil basis dari GM dan Chrysler, sehingga jadilah mesin tipe Esemka 1.5i.

"Semua kita kerjakan sendiri," ujar konsultan Departemen Pendidikan Nasional Ari Setiawan, ketika dikunjungi detikOto, di pameran Indonesian Manufacturing, di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu, (2/12/2009)

Ari pun mengakui memang masih banyak kemiripan dengan produk lain, tapi itu wajar, karena setiap permulaan pasti meniru, mencontoh, tapi pada akhirnya bisa berkembang sendiri.

Sehingga, sampai saat ini, mereka sedang mengembangkan ECU (Electronic Control Unit) agar bisa dilokalisasi juga, karena untuk mobil Esemka, hanya tinggal ECU yang masih mengambil dari Siemens.

Harapannya, tambah Ari, semua pihak bisa memberikan apresiasi, karena biar bagaimanapun, produk anak-anak SMK ini akan terus berkembang, terus menyempurnakan diri, karena tidak ada yang instan.

"Seperti juga Toyota Kijang, dari mulai Kijang buaya yang tanpa jendela kaca, sampai sekarang ada Kijang Innova, nah, kita juga bakal seperti itu perkembangan kedepannya, tunggu saja," pungkas Ari.

Friday, September 4, 2009

This is Indonesia's made car of ESEMKA-1

The car will be produced by Indonesia highschool student across Java.

Mobnas (Esemka) Menanti Cikal Bakal Mobil Nasional

Suara Dr. Joko Sutrisno, Direktur Pembinaan SMK, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) terdengar berapi-api. Dalam tuturannya yang runut, Joko berharap, tahun mendatang lulusan Sekolah Menengah Kejuaran (SMK) , bisa menjadi motor penggerak industri dalam negeri. “Kita harus bisa di industri otomotif juga. Makanya, kami menyiapkan sejumlah program untuk membuat mobil nasional. SMK bisa kok!” ujarnya saat ditemui di kantornya, awal Juni lalu.

Jaringan Luas
Yang membuat Joko optimis, sejumlah SMK yang ada di Indonesia, bisa membuktikan kalau mereka mampu membuat kendaraan. “Kami juga sudah merakit mobil yang beberapa kali kami pamerkan. Mulai bentuknya MPV, SUV sampai mobil kabin ganda. Ini membuktikan kalau SMK memang bisa,” cetusnya mengulangi slogan yang jadi unggulannya: SMK Bisa!

Lanjut

Sunday, August 2, 2009

Doakan SBY Pilih Esemka Jadi Mobil Resmi Kepresidenan

Gambar diatas adalah mobil kepresiden Obama yang dibuat khusus untuk presiden US tersebut. Rakyat sangat berharap, SBY juga memilih mobil Esemka menjadi kendaraan resmi di istana negara. Secara bertahap ini akan diikuti oleh semua kementrian.... Sebuah revolusi industi otomotif Indonesia


Wednesday, June 3, 2009

China Kepincut Esemka Digdaya



Mobil nasional buatan siswa SMK yakni Esemka ternyata mendapat respons yang baik dari dalam dan luar negeri, Selasa (26/5). Bahkan salah satu varian Esemka model double cabin yakni Digdaya sudah diminati oleh China.

Tuesday, May 26, 2009

China Minati Esemka Digdaya


Mobil nasional buatan siswa SMK yakni Esemka ternyata mendapat respons yang sangat baik. Tidak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri.

Bahkan salah satu varian Esemka yang bermodel double cabin yakni Digdaya ternyata sudah diminati oleh China.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno ketika berbincang dengan detikOto akhir pekan lalu.

"Rekan kerja kita dari China sudah menyatakan berminat dengan Esemka Digdaya," papar Joko.

Ketertarikan itu menurut Joko dirasa wajar, karena selain memiliki model yang cukup menawan, harga yang ditawarkan untuk Esemka digjaya pun cukup menggiurkan.

Sebab, bila varian sejenis yang di jual oleh pabrikan besar rata-rata mematok harga yang cukup mahal yakni lebih dari Rp 250 juta untuk varian double cabin mereka, tidak begitu dengan Esemka Digdaya.

Karena Joko memproyeksi harga Esemka Digdaya ini hanyalah berkisar di angka Rp 100-110 juta. "Lebih murah dibandingkan varian sejenis dari merek luar kan," ujarnya membandingkan.

SBY Senyum-senyum Lihat Esemka

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya menyempatkan diri untuk melihat mobil nasional Esemka. SBY tampak sumringah melihat mobil Esemka.

Mobil-mobil Esemka dipamerkan dalam acara peringatan Hardiknas 2009 di Sasana Budaya Ganesha, Bandung, Selasa (26/5/2009).

Dalam pantauan detikOto, SBY menunjukkan rasa bangganya, SBY pun sempat senyum-senyum melihat mobil Esemka.

Saturday, May 23, 2009

Video Karya Anak Bangsa

Esemka Bukti RI Bisa Bangun Mobnas Sendiri

Mobil nasional hasil karya siswa SMK yakni Esemka seharusnya dapat menjadi bukti bahwa Indonesia sesungguhnya mampu membuat sebuah mobil nasional sendiri.

Hal tersebut di ungkapkan oleh Direktur Pembinaan SMK Depdiknas joko Sutrisno ketika berbincang dengan detikOtO, Jumat (22/5/2009).

Digdaya 1.51 akan seharga 80 jt

Mobil berbentuk pikap ekstra kabin berwarna hitam itu diberi nama Digdaya 1.51. Mobil tersebut dibuat selama 78 hari. Biaya produksinya menghabiskan dana sekitar Rp 173 juta. "Jika diproduksi masal, mungkin biaya produksinya bisa ditekan hingga Rp 80 juta per mobil," kata Bagus Gunawan, kepala SMK Singosari di pendapa Kabupaten Malang, kemarin.

Friday, May 22, 2009

Esemka Digdaya Car: The Senior High School Car

The new creation of Mobnas (Mobil Nasional) slowly but sure emerging. The variants of the Mobnas car are vary, such as Komodo for plantation area, Arina and GEA as micro Car and right now there is a pickup car created by senior high school special program (SMK) called Esemka Digdaya.

Esemka Digdaya is pickup double cabin car developed by SMK 1 Singosari Malang by using engine ex Timor 1,500cc. The times used to make this car was about 3 months only all worked by the student.